Tampilkan postingan dengan label Biografi Kyai Nurul Jadid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Kyai Nurul Jadid. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

K.H. Abdul Wahid Hasyim

KH Abd. Wahid Zaini adalah putra ke dua dari tujuh bersaudara, pasangan KH. Zaini Mun’im dan Nyai Hj. Nafi'ah. Beliau lahir pada hari Jum’at tanggal 17 Juli 1942 di Desa Galis, Pamekasan Madura. Beliau mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya, langsung dari ayahandanya tercinta. Sebagai putera, beliau sangat patuh dan tawadu’ terhadap kedua orang tuanya. Sementara sebagai santri/murid, selain memiliki kecerdasan dan tingkat intelegensia yang tinggi, beliau juga sangat tekun me-muthala’ah tiap materi pelajaran.
Menginjak usia dewasa, beliau kemudian mondok ke Pesantren Peterongan Jombang, yang kala itu diasuh oleh KH. Musta’in Ramli. Selain mondok beliau juga meneruskan jenjang pendidikannya di sekolah Pendidikan Mu’allimin Atas (saat ini menjadi MTs dan MA).
Sebagai santri di Pesantren Darul Ulum, selain aktif mengikuti setiap kegiatan kepesantrenan, Wahid muda juga turut memikirkan kemajuan pesantren. Kala itu beliau pernah menggagas tentang berdirinya IKDU (Ikatan Keluarga Darul Ulum). Tujuan organisasi ini adalah untuk mengakomodir santri dari berbagai daerah, yang selanjutnya diharapkan bisa memberikan sumbangan, baik pemikiran atau lainnya, demi kemajuan pesantren. Dalam perkembangannya, IKDU berubah menjadi IKAPPDAR (Ikatan Keluaga Besar Pondok Pesantren Darul Ulum).
***
Memasuki tahun 1962, Wahid muda melanjutkan proses belajarnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Di IAIN ini beliau masuk Fakultas Syari’ah dan memilih Jurusan Akhwal As-Shaksyiah. Saat itu pula, beliau menyempatkan diri kuliah di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Fakultas Hukum.
Di IAIN Sunan Ampel, selain menekuni bidang akademik, beliau juga terjun dalam dunia organisasi. Kala itu, beliau termasuk perintis berdirinya organisasi PMII. Di organisasi ini, beliau dipercaya menjabat sebagai ketua komisariat untuk lingkungan kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Daerah Surabaya Selatan. Selanjutnya, beliau juga dipercaya sebagai sekeretaris dan ketua satu untuk Wilayah Jawa Timur (sekarang Koordinator Cabang).
Selain aktif di PMII, pada awal tahun 1960-an, beliau juga menempa bakat keorganisasiannya di Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Wilayah Jawa Timur, dan pada tahun 1964 dipercaya sebagai koordinator departemen mahasiswa dan perguruan tinggi wilayah Jawa Timur.
Selanjutnya, aktivitas Wahid muda bertambah padat. Karena saat itu, selain beliau menjadi Rektor Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAINJ) di Paiton Probolinggo, beliau juga dipercaya menjadi anggota DPRD tingkat I Provinsi Jawa Timur melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Dus, karena padatnya kesibukan ini, maka kewajiban akademis (skripsi) beliau di IAIN Sunan Ampel sempat terbengkalai. Meski demikian, berkat dorongan dari sobat karibnya, Prof. Dr. Syaichul Hadi Purnomo, SH, akhirnya beliau bisa menyelesaikan tugas akhir tersebut.
Selesai ujian dengan nilai summa cum laude (sempurna), beliau kemudian langsung diwisuda dan meraih gelar Doktorandus (S1) pada periode akademik 1990-1991.
Sebelumnya, pada tahun 1984 beliau berhasil memperoleh gelar Sarjana Hukum (S1) di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.

Berjuang di NU
Perjuangan Kiai Wahid di NU, diawali dengan ajakan kakak kandungnya, KH. Muh. Hasyim Zaini dan adik iparnya, KH. Hasan Abdul Wafi, untuk ikut aktif mengikuti kegiatan di organisasi NU. Mulanya, beliau mengawali aktivitas keorganisasian di Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Paiton.
Selanjutnya, pada tahun 1971 Kiai Wahid dipercaya menjadi ketua umum tanfidziyah PC NU selama satu periode (1971-1975). Sementara pada periode 1978-1980, 1980-1984 dan 1984-1988, beliau dipercaya sebagai Wakil Khatib Syuriyah di Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur. Kemudian pada periode 1988-1992 s/d 1992-1996 beliau dipercaya menempati posisi Wakil Rais Syuriyah PW NU Jawa Timur.
Sebelum masa jabatan beliau di PW NU berakhir, beliau dipercaya menjadi salah satu Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar (PB) NU periode 1994-1999, melalui Muktamar NU ke 29 di Cipasung Jawa Barat tahun 1994.
***
Ketika Kiai Wahid aktif sebagai pengurus PW NU Jawa Timur mulai tahun 1978 s/d 1996, beliau banyak mengeluarkan beberapa gagasan demi kemajuan NU. Di antaranya adalah: pertama, beliau berharap agar kantor PW NU dalam setiap harinya diisi oleh salah satu pengurus inti NU, baik ketua, wakil ketua dan atau lainnya. Sehingga, kantor PW NU bisa difungsikan sebagai tempat konsultasi, menampung aspirasi masyarakat dan melayani kepentingan warga NU.
Kedua, agar dalam setiap periode NU memiliki program prioritas dan benar-benar bisa dijalankan secara optimal tanpa harus menghilangkan program yang lain. Program prioritas ini harus sistematis. Artinya, antara satu periode dengan periode selanjutnya ada kesinambungan. Tujuannya, agar masyarakat dapat mengetahui dan merasakan program NU dalam satu periode.
Ketiga, beliau juga berfikir tentang peta jama’ah NU, baik yang berada di pedesaan maupun di kota. Dengan peta ini, diharapkan agar para pengurus NU mengetahui basis NU; mayoritas dan minoritas warga NU berada di daerah mana saja? Lebih jauh, para pengurus NU bisa lebih mudah mengetahui kondisi sosio-kultur dan kebutuhan warga NU di setiap daerah. Pengetahuan ini akan mempermudah para pengurus NU ketika merencanakan sebuah program di suatu daerah. Hingga nantinya, ketika program tersebut dilaksanakan tidak akan terjadi kontra-produktif.
Pemikiran-pemikiran Kiai Wahid di atas, tidak seluruhnya beliau kemukakan dalam rapat kepengurusan formal. Bahkan lebih sering beliau lontarkan dalam diskusi-diskusi kecil atau saat ngobrol santai dengan para pengurus lainnya. Dalam diskusi tersebut, biasanya beliau ditemani dengan patner beliau, KH. Imron Hamzah.

Berjuang di LAKPESDAM.
Pada tahun 1984, selain tercatat sebagai perintis berdirinya Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM), Kiai Wahid juga dipercaya sebagai Direkturnya untuk Wilayah Timur, yang meliputi seluruh daerah Jawa Timur hingga NTT.
Selama menjadi Direktur LAKPESDAM, acapkali beliau menyelenggarakan pelatihan peningkatan kualitas SDM terhadap para pengurus cabang NU se-Jawa Timur, para Kiai, dan tokoh masyarakat. Adapun materi yang disampaikan adalah keorganisasian, menejemen dan kepemimpinan. Sementara nara sumber yang beliau hadirkan antara lain terdiri dari tokoh-tokoh nasional seperti Gus Dur, Dr. Syaifuddin Zuhri, MM Billah, dan lainnya.
Meski menjadi penyelenggara kegiatan pelatihan, Kiai Wahid tidak kemudian menjaga jarak dengan para peserta pelatihan. Tanpa harus merasa gengsi, beliau ikut aktif mendampingi atau lebur dengan mereka sampai tuntas. Ini beliau lakukan, selain karena karakter beliau yang haus akan ilmu, juga agar beliau bisa akrab dengan para peserta pelatihan.
Terhadap para alumni pelatihan, beliau berharap agar nantinya mereka bisa menjadi kader dan pengurus NU yang mumpuni, sehingga bisa turut mengembangkan dan memajukan NU menjadi organisasi besar dan profesional.
Adapun visi-misi Kiai Wahid ketika menangani LAKPESDAM adalah: pertama, agar LAKPESDAM menjadi lembaga independen dan tidak tergantung pada NU, terutama soal pendanaannya. Kedua, sebagai program prioritas adalah membagun SDM terlebih dahulu daripada membangun fasilitas fisik. Ketiga, sebagai jam’iyah maka program-program yang dilaksanakan harus membumi (kongkrit), sehingga warga NU dapat menikmati hasilnya secara langsung.
Pada tahun 1990, demi kaderisasi, akhirnya Kiai Wahid mengakhiri masa jabatannya di LAKPESDAM.

Berjuang di RMI
Sebagai tokoh dan sekaligus pengasuh pondok pesantren besar yang selalu memunculkan ide kreatif, kehadiran Kiai Wahid di lembaga otonom NU, Rabhitah Ma’ahidi al-Islamiyyah (RMI) disambut baik oleh banyak kalangan. Di lembaga ini, beliau dipercaya sebagai ketua umum selama dua periode: 1) Ketika menggantikan posisi Kiai Najib. 2) Setelah menang dalam pemilihan ketua RMI yang diselenggarakan pada muktamar NU ke-28 di Krapyak Yogyakarta (periode 1988-1993).
Sebagai ketua umum RMI, Kiai Wahid banyak melakukan terobosan baru. Di antaranya; 1) beliau mulai merintis terbentuknya pengurus RMI di tingkat cabang dan wilayah, baik di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan hampir menyentuh seluruh provinsi di Indonesia. 2) Kontekstualisasi fiqh melalui penyelenggaraan kegiatan halaqah di pondok pesantren secara bergantian. Kegiatan ini diselenggarakan mulai dari Banten hingga Kabupaten Banyuwangi, di antaranya di Pesantren Watucongol Jawa Barat, Darul Ulum Jombang, Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Nurul Jadid Probolinggo, Cipasung dan Blok Agung Banyuwangi.
“Mengapa halaqah perlu diselenggarakan? Karena kita ini sudah jauh tertinggal oleh perkembangan zaman. Memang, kita alim (pandai) dalam urusan keagamaan dan Fiqh. Tapi tanpa didukung oleh informasi, wawasan perkembangan sains dan teknologi, kita tidak akan bisa berbuat banyak. Ada seorang Kiai ditanya tentang hukumnya memakai microfon (pengeras suara) atau speaker. Karena sang Kiai belum pernah tahu apa itu microfon, sedangkan dalam kitab-kitab klasik disebutkan bahwa microfon adalah barang buatan orang kafir, maka sang Kiai menjawab hukumnya haram. Padahal saat itu juga Kiai tersebut menggunakan alat pengeras microfon. Tapi kemudian, setelah diberi penjelasan tentang microfon, Kiai tadi langsung menjawab boleh,” kata Kiai Wahid.
Dalam kegiatan halaqah, para partisipan tidak hanya diajak berdialog dan berdiskusi. Tapi mereka juga diajak untuk berfikir tentang persoalan-persoalan kemasyarakatan yang timbul di sekitarnya. Beberapa tema yang pernah diangkat dalam kegiatan halaqah tersebut antara lain, masalah hukum agraria, keluarga bencana, pertanian dan perpajakan.
Dari sekian kegiatan halaqah, seringkali Kiai Wahid terlibat langsung dalam merumuskan konsepnya dan melakukan kerjasama dengan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Kerjasama dengan P3M ini tergolong mudah, karena di saat yang sama Kiai Wahid merupakan penasehat dan termasuk salah satu pendiri P3M.
Pendekatan dan lobi kepada pemerintah juga sering beliau lakukan. Hasilnya? Pemerintah kemudian memberi kepercayaan kepada RMI untuk membuat perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan. Ini beliau lakukan demi terjalinnya kerjasama yang strategis dan bersifat jangka panjang. Beberapa dinas pemerintah yang pernah diajak kerjasama adalah dinas pertanian, kehutanan, kesehatan, riset dan teknologi.

Menggagas Kelahiran Ma’had Aly
Seiring dengan visi dan misi RMI yang ingin mengembangkan pendidikan pesantren, Kiai Wahid juga menggagas berdirinya Ma’had Aly sebagai lembaga setingkat perguruan tinggi (PT) di pesantren. Mulanya, ide ini pernah disampaikan pada Kiai As’ad Syamsul Arifin, yang selanjutnya langsung diterima.
Salah satu tujuan dibukanya Ma’had Aly adalah, agar pesantren mengkaji teori-teori ilmiah selain kitab kuning, sehingga nantinya pesantren bisa menjadi basis kaderisasi pemikir muda Islam.
Adapun pesantren yang telah mendirikan Ma’had Aly adalah: 1) Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo (konsentrasi pada Fiqh) . 2) Pesantren Krapyak Yogyakarta (konsentrasi pada Ushul Fiqh). 3) Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo (konsentrasi pada Dirosah Islamiyah).

Pandangan terhadap Masail Diniyyah dan Pondok Pesantren
Sebagai ulama intelektual, demikian mantan Mendiknas Malik Fajar menyebut Kiai Wahid, acapkali beliau menjadi tempat konsultasi oleh orang-orang yang tengah menghadapi pelbagai persoalan. Adapun Kiai Wahid sendiri selalu menerimanya dan dengan senang hati memberikan solusi. Berkat kemampuan beliau ini, tidak mengherankan jika kemudian beliau mampu menjadi mediator konflik pemikiran antara pengurus NU yang sepuh-sepuh dengan kalangan anak muda NU. Lebih-lebih, beliau mampu mempersatukan gagasan kedua belah pihak.
Sebagai figur Kiai yang memiliki pola pemikiran yang kritis dan moderat, acapkali beliau melakukan terobosan-terobosan baru. Misalkan dalam bidang bahstul masail, Kiai Wahid pernah melakukan pembaharuan tentang sistem dan metode pengambilan hukum terhadap persoalan yang ada di tengah masyarakat. Menurut beliau, langkah-langkah dalam bahstul masail perlu ada perkembangan. Kala itu beliau menawarkan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, harus di cari terlebih dahulu akar persoalannya. Kedua, adakah referensi dalam kitab-kitab klasik dan atau sumber lain yang terkait. Ketiga, kemudian dikontekstualkan (di-istimbath-kan) dengan persoalan sosial, ekonomi dan budaya. Pemikiran beliau ini kemudian berhasil disahkan dalam musyawarah nasional (Munas) di Lampung pada tahun 1992, dan dikenal dengan nama fiqih kontekstual.
Sementara tentang Pondok Pesantren, Kiai Wahid pernah melontarkan ide bahwa, bagaimana Pondok Pesantren itu menjadi basis kader untuk pengembangan NU ke depan. Karena Pondok Pesantren di kenal sebagai basis anak muda NU. Sehingga perlu ada pembinanaan dan kaderisasi santri sebagai embrio ulama yang ada di Pesantren. Ide ini beliau lontarkan, karena menyadari bahwa para founding father NU berasal dari Pesantren.

Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid (1984 – 2000).
Meski kesibukan Kiai Wahid di luar pesantren sangat padat, tapi beliau tetap bisa mengurus pesantren dengan baik. Pada masa beliau, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik mengenai jumlah santri maupun pelayanan dan pengembangan kemasyarakatan.
Sebagai Pemimpin Pesantren, selain dibantu adik-adiknya, beliau juga dibantu oleh KH. Hasan Abd. Wafi yang kala itu dipercaya sebagai Dewan Pengawas Pesantren, dan KH. Fadlurrahman serta KH. Faqih Zawawi sebagai Dewan Pertimbangan Pesantren.
Selama menjadi Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Kiai Wahid tidak hanya mengarahkan para santrinya agar mampu memahami ilmu-ilmu agama dan tekhnologi, tapi beliau juga mendorong memajukan kemandirian masyarakat sekitar pesantren lewat pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
Dalam bidang pendidikan, dilakukan pembenahan mulai dari TK (Taman Kanak-Kanak) hingga Perguruan Tinggi. Di antaranya, pada tahun 1989, setelah Pesantren Nurul Jadid menjalin kerjasama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), TK Nurul Muni’m kemudian dirubah menjadi TK. Bina Anaprasa.
Satu tahun kemudian, beberapa lembaga pendidikan yang sebelumnya hanya memiliki status terdaftar dan diakui, diusahakan menjadi disamakan. Dengan peningkatan status ini, lembaga pendidikan tersebut sejajar dengan lembaga pendidikan negeri. Di antara lembaga tersebut adalah SMUNJ (disamakan pada tahun 1990), SMPNJ (disamakan pada tahun 1991), dan MTsNJ serta MANJ (disamakan pada tahun 1997).
Pada tahun 1992, di Pesantren Nurul Jadid juga telah dirintis berdirinya Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK). Ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan anak didik memahami kitab klasik dan juga mampu berbahasa asing (arab dan inggris). Pada tahun 1995, berdasarkan kurikulum baru, MAPK berubah menjadi MAK.
Sementara itu, upaya-upaya pengembangan juga dilakukan pada jenjang Perguruan Tinggi, seperti perubahan status dari PTID menjadi Institut Agama Islam Nurul Jadid (1986). Ini karena konsentrasi keilmuan di tubuh PTID bertambah menjadi tiga fakultas, yaitu Fakultas Dakwah, Tarbiyah dan Syari’ah dengan dua jurusan pada masing-masing fakultas. Kemudian pada tahun 1999, masing-masing fakultas tersebut lolos akreditasi Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Selanjutnya, untuk menjawab tantangan dalam bidang information technology (IT), pada tahun 1999 didirikan STT (sekolah tinggi tekhnologi) Nurul Jadid yang semula hanya berupa kursus komputer.
Pada masa Kiai Wahid juga didirikan Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) yang menjadi cikal bakal pendidikan D1 bahasa Inggris. LPBA diharapkan dapat menghidupkan ghirah berbahasa asing di masing-masing gang.
Sementara itu, berbagai upaya mendorong kemandirian masyarakat sekitar pesantren juga digalakkan. Misalkan, melalui Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM), Pesantren Nurul Jadid antara lain mendirikan USP (unit simpan pinjam) yang dirintis tahun 2000, guna membantu para petani tembakau dan juga memberikan pendampingan pada mereka. Ide ini muncul karena petani tembakau di sekitar Paiton tidak memiliki posisi tawar yang kuat di hadapan para pengambil kebijakan. Padahal tembakau merupakan sumber utama ekonomi masyarakat Paiton. Melalui Paperton, pesantren dan masyarakat bermusyawarah seputar persoalan-persoalan pertembakauan, seperti kapasitas produksi, kapasitas daya tampung gudang dan lain-lain.
Pesantren juga merintis berbagai usaha agrobisnis berupa penanaman varietas tanaman. Seringkali tanaman petani hanya sejenis. Akibatnya, kalau satu terserang hama, semua tanaman akan ludes. Usaha lainnya berupa peternakan dan perikanan. Sementara untuk membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang baik, Pesantren Nurul Jadid juga mendirikan BP (balai pengobatan) Azzainiyah yang semula bernama Usaha Pelayanan Kesehatan Santri (UPKS). Pada masa Kiai Wahid juga didirikan panti asuhan untuk menampung anak-anak dari kalangan ekonomi lemah.
***
Demikianlah kiprah Kiai Wahid. Hampir seluruh hidupnya, beliau waqafkan demi perjuangan dan pengabdian kepada agama, negara dan bangsa. Dengan penuh kesabaran, ketekunan dan diiringi dengan pemikiran yang brilian, beliau dedikasikan hidupnya untuk NU, RMI, LAKPESDAM, Pesantren dan santrinya, serta lainnya. Bertolak dari hal ini, ketika pada tanggal 18 Sya’ban 1421 (tahun 2000), tanpa ada firasat apa-apa, tapi tiba-tiba beliau meninggal dunia, wajar jika para santri, keluarga, alumni, masyarakat sekitar pesantren, tokoh agama, masayarakat dan pemerintah mengalami kidung duka cita. Innalillahi wa Inna Ilai Raji’uun.
by: M. Adib Minanurrachim

K.H. Hasan Abdul Wafi

Latar Belakang Kehidupan dan pendidikan
Tahun 1923, di Desa Sumber Anyar Kecamatan Tlanakan Pamekasan, Lora Abd. Wafi dilahirkan. Beliau merupakan putera bungsu dari tujuh bersaudara, dari pasangan Kiai Miftahul Arifin dan Ny Latifah. Keenam saudara beliau adalah, KH. Ahmad Sayuti, Ny Hj. Atiyah, KH. Zainullah, KH. Masduqi, KH. Syarqowi dan KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin.
Sejak usianya masih kecil, Lora Abd. Wafi telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahandanya, KH. Miftahul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nuriyah, Pamekasan. Ilmu agama yang diajarkan di antaranya adalah, membaca AL-Qur’an, Fiqh dan lainnya.
Sekira tahun 1938, ketika usia Lora Abd. Wafi masih 6 tahun, beliau harus rela kehilangan ibunda tercintanya untuk selama-lamanya. Seolah tak habis dirundung duka, lima tahun kemudian, ayahandanya tercinta wafat.
Meski demikian, kepergian kedua orangtua yang sekaligus gurunya tersebut, tidak menjadikan Lora Abd. Wafi tenggelam dalam lautan duka terus-menerus. Lora Abd. Wafi tetap melanjutkan proses belajarnya ke Madrasah Diniyyah di Desa Branta, Tlanakan, Pamekasan. Adapun guru beliau di Madrasah itu adalah Sayyid Hasan bin Alwi dan kakak kandungnya sendiri, KH. Achmad Sayuti. Selain itu, Lora Abd. Wafi juga belajar kepada KH. Achmad Faqih di Sumber Nyamplong Toronan, Pamekasan.
Di Madrasah itu, Lora Abd. Wafi terkenal sebagai murid yang cerdas dan dhobid (mudah menghafal). Karena di usia yang masih relatif muda, beliau sudah mampu menghafal beberapa bait alfiah.
Setamat dari Madrasah Diniyyah, Lora Abd. Wafi melanjutkan proses belajarnya ke Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Palengan, Pamekasan, yang diasuh oleh KH. Abdul Majid. Di Pesantren ini, beliau langsung dipercaya oleh Kiai Abdul Majid untuk membantu mengajar dan mendidik para santri.
Dalam mengajar, Lora Abd. Wafi merupakan sosok ustadz/guru yang telaten. Tak jarang beliau membantu beberapa santrinya yang mengalami kesulitan dalam muthola’ah (mengulang materi pelajaran). Meski demikian, tak jarang pula beliau marah jika mengetahui salah satu muridnya malas muthola’ah.
Selanjutnya, karena rasa haus Kiai Abd. Wafi terhadap ilmu, akhirnya seidzin Kiai Abdul Majid, beliau kemudian meneruskan proses belajarnya ke tanah suci Makkah.
***
Sepulang dari tanah suci, nama beliau kemudian diitambah Hasan, lengkapnya KH. Hasan Abd. Wafi. Selanjutnya, bersama kakak kandungnya, KH. Sufyan Miftahul Arifin, beliau melanjutkan proses belajarnya kepada KH. Sahlan di sebuah Pesantren yang terletak di Krian Sidoarjo. Kepada Kiai Sahlan beliau belajar tentang tasawuf. Setelah dua tahun belajar tasawuf, kemudian beliau melanjutkan proses belajarnya ke Pesantren Peterongan Jombang yang kala itu diasuh oleh KH. Musta’in Ramli. Seolah masih terus dahaga akan ilmu, beliau kemudian melanjutkan proses belajarnya ke Pesantren Krapyak Jogjakarta yang kala itu diasuh oleh KH. Munawir.
Setelah malang-melintang dari satu pesantren ke pesantren lainnya, akhirnya Kiai Hasan merasa perlu memilih sebuah tempat untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang beliau dapatkan dari sekian banyak Kiai di pelbagai pesantren. Akhirnya, Pondok Pesantren Nurul Jadid yang terletak di Kecamatan Paiton Probolinggo, menjadi pilihan terbaik bagi Kiai Hasan untuk mengamalkan ilmu sambil melanjutkan proses belajarnya kepada KH. Zaini Mun’im. Di Pesantren ini, beliau ditemani kakaknya, KH. Sufyan Miftahul Arifin yang kala itu juga nyantri sekaligus membantu Kiai Zaini mengajar dan mendidik santri-santrinya. Keputusan Kiai Hasan untuk menetap di Pesantren ini bertambah bulat ketika di usianya yang ke 35, beliau dijodohkan dengan Ny. Aisyah Zaini, puteri Kiai Zaini. Hasil pernikahan dengan puteri kesayangan gurunya ini, Kiai Hasan dikaruniai 12 putera-puteri, yaitu: 1) M. Ramli (wafat di usia 9 bulan), 2) seorang perempuan (wafat di usia balita dan belum sempat diberi nama), 3) KH. Kholilurrahman, 4) Ny. Hj. Ja’faroh, 5) Ny. Hj. Hamidah, 6) Ny. Hj. Salma, 7) Ny. Hj. Latifah, 8) Ny. Hj. Nur Khotimah, 9) M. Maemun, 10) Ny. Hj. Hilmiyyah Makkiyyah, 11) Abdurrahman, dan 12) M. Amin.

Mengabdi di Pesantren Nurul Jadid dan sekitarnya
Di pesantren Nurul Jadid beliau turut membantu mengajar dan mendidik santri bersama para pengasuh lainnya. Adapun kitab yang beliau ajarkan adalah al-Iqna, Tafsir al-Jalalain, Ibnu al-Aqil dan lain-lain. Selain mengajar kitab klasik di musala, beliau juga mengajar di lembaga formal, seperti di Muallimin 6 tahun dan Perguruan Tinggi Islam dan Dakwah (PTID) Nurul Jadid. Sementara materi yang biasa beliau ajarkan adalah fiqh.
Selain membantu mengajar dan mendidik santri, pada tahun 1976 s/d 2000 beliau dipercaya menjadi Dewan Pengawas Pesantren Nurul Jadid.
Sebagai pendidik beliau terkenal sangat disiplin dan keras. Ini berdampak positif terhadap perkembangan keilmuan dan wawasan para anak didik, baik yang berada di Maullimin 6 tahun atau pun di PTID. Karena para pelajar yang kala itu mayoritas adalah santri, selalu belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Tak jarang mereka belajar hingga menjelang pagi jika keesokan harinya Kiai Hasan akan mengajar mereka. Ketekunan dan kesungguhan belajar ini, karena Kiai Hasan selalu mengajak mereka berdiskusi mengenai persoalan-persoalan fiqhiyyah. Jika mereka tidak belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh, kemudian tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kiai Hasan, sudah dapat dipastikan mereka akan mendapatkan amarah. Dari kedisiplinan ini, akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Tidak sedikit dari para pelajar yang santri ini, selain pandai ilmu umum juga mahir dalam ilmu agama.
Selain mengajar di pesantren Nurul Jadid, Kiai Hasan juga mengamalkan ilmunya di lembaga pendidikan Ma’had Ali yang terletak di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo, di Patokan Kraksaan dan beberapa tempat di sepanjang Pantai Utara, Jawa Timur. Adapun peserta didiknya, terdiri dari pelbagai macam golongan. Ada santri, pelajar, mahasiswa, pengurus NU, hingga Kiai.
Selain menekuni dunia pendidikan, beliau juga mempunyai perhatian dalam bidang pertanian dan perdagangan. Dalam dunia ini, Kiai Hasan tidak lupa melibatkan para santri-santrinya di dalamnya. Harapannya, agar para santri bisa menguasai ilmu pertanian dan perdagangan selain ilmu agama. Sehingga, jika nantinya sudah terjun ke masyarakat, mereka tidak mengalami kesulitan mencari nafkah hidup.
Dalam dunia pertanian, Kiai Hasan biasanya memberikan kesempatan pada para santrinya untuk mengelola sawahnya. Adapun hasilnya, dibagi sesuai dengan ketentuan hukum islam. Sementara itu, jika ada santrinya yang memberikan hasil jerih-payahnya dalam bentuk yang penuh atau tidak mengambil haknya, maka Kiai Hasan akan marah kepadanya. “Saya ini menerapkan syirkah; sebagian untuk saya dan sebagian untuk ananda sebagai orang yang mengerjakan sawah,” ujar Kiai Hasan.
Kiai Hasan juga merupakan sosok Kiai yang sangat perhatian terhadap nasib santri-santrinya. Jika beliau bertemu dengan santrinya, tak jarang beliau bertanya soal pekerjaan mereka. Jika mengetahui santrinya hanya bekerja dengan gaji yang kurang dari cukup untuk kebutuhan keluarganya, acapkali beliau menyuruh santri itu untuk datang ke rumah beliau dan selanjutnya diberi pinjaman uang, agar bisa dikembangkan dalam bentuk usaha sesuai dengan kemampuan santri tersebut.
Dari hal di atas, Kiai Hasan ternyata merupakan sosok Kiai yang memiliki jiwa lembut dan penuh kasih-sayang kepada santri-santrinya. Beliau menjadi keras dan sering marah, hanya karena semata-mata untuk mendidik para santri agar selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Lebih jauh, Kiai Hasan pernah berpesan bahwa jika berguru, hendaknya juga bersuhbah (bersahabat) dengan gurunya.

Berjuang untuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Masyarakat
Selain mengamalkan ilmunya di Pesantren Nurul Jadid, KH. Hasan Abdul Wafi juga berjuang di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Di Organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari ini, beliau berangkat bersama dengan saudara iparnya, KH. Abd. Wahid Zaini, SH. Hingga kemudian Kiai Hasan dipercaya sebagai ketua syuriah PCNU Kraksaan dalam dua periode. Sementara Kiai Wahid, setelah menjadi ketua tanfidziah PCNU Kraksaan, beliau diangkat menjadi pengurus PWNU hingga PBNU.
Sebagai ketua syuriah PCNU Kraksaan, Kiai Hasan merupakan orang yang disiplin. Jika datang ke kantor, beliau sering datang terlebih dahulu. Ini sangat berpengaruh besar, terutama terhadap dinamika dalam tubuh NU.
Selain itu, Kiai Hasan juga dikenal sebagai ulama yang berani menyampaikan amar makruf-nahi mungkar, walau amat pahit untuk disampaikan. Beliau tidak segan untuk marah terhadap seseorang jika orang tersebut melanggar syari’at. Meski demikian, amarah beliau cepat mereda, setelah menyampaikan apa yang menjadi unek-uneknya tentang sesuatu yang dianggap menyimpang dari ajaran agama.
Selama hidupnya, di kediaman Kiai Hasan tidak terdapat TV. Meski demikian, beliau tidak buta akan informasi. Ini dibuktikan dengan adanya suratkabar yang begitu menumpuk di kediamannya. Sehingga beliau terkenal dengan sosok ulama yang selalu mengikuti informasi yang up to date. Akan kegemarannya ini, tak jarang pengurus PCNU, baik tanfidziah-syuriah, muda-tua, sebelum mengetahui berita terbaru, beliau sudah terlebih dahulu mengetahuinya.
Dalam organisasi yang berlambang sembilan bintang mengitari bumi ini, beliau mendapatkan patner kerja yang serasi, yaitu Bpk. Rasyid AR, ketua tanfidziah PCNU Kraksaan. Bersama Pak Rasyid, beliau menempati posisi teras di PCNU Kraksaan selama dua periode. Bukti keserasian antara keduanya adalah kesediaan mereka untuk saling berkunjung ke kediaman masing-masing. Jika, Bpk Rasyid terlalu lama tidak berkunjung ke kediamannya, Kiai Hasan tak keberatan untuk menyambangi rumahnya. Begitu pun sebaliknya.
Atas kesediaan Kiai Hasan berkunjung ke rumahnya, Bpk Rasyid pernah berkata kepada Kiai Hasan, “Kiai, saya ini tidak pantas jika harus dikunjungi Kiai Hasan. Karena seorang tanfidziah adalah santri.” Mendengar perkataan ini, Kiai Hasan langsung menegur, “antara tanfidziah dan syuriah itu harus menyatu.” Demikianlah, meski Kiai Hasan adalah seorang ulama, beliau tidak sungkan-sungkan untuk berkunjung ke rumah koleganya demi kemajuan organisasi NU.
Selain itu, beliau juga selalu menjaga jalinan silaturrahmi dengan seluruh pengurus NU, baik di tingkat cabang, wakil cabang hingga ranting. Kunjungan yang sering beliau lakukan itu, adakalanya dalam rangka pembinaan, atau sekedar mengobrol biasa. Meski demikian, kehadiran beliau mempunyai nilai lain. Sehingga NU kala itu bisa jalan dengan solid dan baik.
Sebagai Ketua Syuriah NU, Kiai Hasan terkenal gigih memajukan wawasan keagamaan, baik terhadap pengurus NU atau pun masyarakat. Misalkan beliau berpendapat, jika ada masalah yang belum terpecahkan supaya diajukan ke cabang, dan akan ditindaklanjuti dengan diskusi. Kiai Hasan sendiri selalu berusaha untuk hadir. Sementara hasil dari diskusi akan dibukukan. Ini setiap satu bulan sekali diadakan. Selain itu, pada masa kepemimpinan Kiai Hasan, diadakan pula pengajian di setiap Majleis Wakil Cabang (MWC) dengan cara bergiliran. Adapun Kiainya terdiri dari Kiai-Kiai yang dipilih oleh peserta pengajian, di antaranya adalah Kiai Badri dan Kiai Hasan sendiri. Lebih jauh, sebagai ketua syuriah, beliau juga menganjurkan agar di masjid-masjid dikembangkan pengajian kitab S2 (sulam as-safinah).
Terhadap masyarakat, beliau selalu bersedia jika diundang untuk berdakwah, meski dalam kondisi kesehatan yang kurang baik. Dalam hal ini, Kiai Hasan selalu berpesan, bahwa jika diundang untuk menghadiri pengajian, jangan diukur dari materi yang diberikan. Tapi berjuang itu harus berani berkorban.
Beliau juga terkenal sebagai seorang dermawan. Misalkan ketika memimpin NU, tak jarang beliau mengeluarkan uang pribadinya untuk biaya transportasi atau untuk urusan logistik. Selain itu, menjelang hari raya, biasanya beliau juga sering membagi-bagikan pakaian dan sarung, terutama kepada pengurus NU yang aktif.
Kiai Hasan merupakan sosok ulama yang sangat mencintai NU. Ini beliau tunjukkan ketika kakak kandungnya, KH. Achmad Sufyan Miftahul Arifin yang mengajurkannya agar menjadi mursyid, karena alasan sikap kerasnya. Tapi Kiai Hasan menolak anjuran tersebut. Menurut Kiai Hasan, selama memimpin NU, beliau tidak bisa menjadi mursyid. “Biarkanlah saya NU saja, wirid-wiridnya, wirid NU saja,” ujarnya.
Kecintaan beliau ini kemudian ditularkan kepada santri-santrinya yang sudah memperoleh gelar sarjana. Kepada para santrinya, Kiai Hasan selalu menganjurkan agar aktif berjuang di NU.
***
Dalam memimpin PCNU Kraksaan, Kiai Hasan selalu bersandarkan kepada aturan AD/ART yang telah ditetapkan PBNU. Beliau juga merupakan sosok pemimpin yang mengetahui detail sejarah perjalanan NU. Misalkan, NU itu lahirnya dari masyarakat, bukan dari pemerintah. Sehingga, beliau akan sangat marah jika NU mengadakan kegiatan, tapi pengurus NU tidak mengajak masyarakat. Ini diharapkan agar NU bisa independen terhadap pemerintah.
Mengenai dunia pendidikan, kepada Tanfidziah, Kiai Hasan menganjurkan agar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) diajarkan mulai SD hingga Perguruan Tinggi (PT). Yang kedua, beliau juga berpesan agar putera-puteri NU itu paling sedikit memiliki ijazah Aliyah (MA). Adapun perguruan tinggi itu menurut kemampuan. Pendapat ini bertolak dari keprihatinan beliau melihat anak-anak NU yang hanya tamat belajar sebatas SMP, lebih-lebih SD. Selain itu, menurut Kiai Hasan, anak puteri NU yang hanya bisa sekolah sampai tingkat SMP misalkan, kemudian langsung diajak kawin, pengetahuan anak itu belum cukup untuk mengerti soal bagaimana menjadi istri yang baik. Kecuali bagi yang sudah pernah nyantri di pesantren.
Bertolak dari hal di atas, wajar ketika Kiai Hasan meninggal, banyak orang yang merasa kehilangan terhadap sosok ulama yang ahli fiqh, organisatoris yang gigih dan pejuang yang ikhlas.

Biografi KH. Hasyim Asy'ari

Riwayat Singkat KH. Muh. Hasyim Zaini, BA

KH. Hasyim Zaini, merupakan putera pertama dari Almarhum KH. Zaini Mun’im. Beliau mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya, langsung dari ayahandanya tercinta. Sebagai putera, beliau sangat patuh dan tawadu’ terhadap kedua orang tuanya. Sementara sebagai santri/murid, selain memiliki kecerdasan dan tingkat intelegensia yang tinggi, beliau juga sangat tekun me-muthala’ah tiap materi pelajaran dan cukup telaten (kreatif). Ketelatenan ini terlihat dari catatan pinggir di seluruh kitab-kitab beliau tentang keterangan atau petuah guru-gurunya (termasuk dari ayahandanya). Mengenai ketelatenan ini, beliau pernah berkata, “man kutiba karra wa man sumi’a farro” (barang yang ditulis akan kekal, tapi jika hanya didengar akan hilang).
Menginjak usia dewasa, beliau kemudian melanjutkan proses pendidikannya ke Pondok Pesantren Peterongan Jombang, yang kala itu diasuh oleh KH. Musta’in Ramli. Sebelum berangkat mondok, ayahandanya berpesan kepada beliau bahwa dalam proses belajar janganlah mengandalkan orangtua, tapi andalkanlah Allah. Pesan ini kemudian selalu beliau ingat dan yakini. Lebih-lebih ketika beliau mengalami kejadian yang mencerminkan petuah dari ayahandanya tersebut. Ceritanya, ketika berangkat menuju Pesantren Peterongan, beliau mengalami musibah; bekal berupa beras dari kedua orangtuanya tertinggal di Surabaya. Dari kejadian ini, beliau kemudian tambah yakin bahwa petuah dari ayahandanya tersebut benar; harus mengandalkan Allah SWT.
Dari kesadaran dan keyakinan tersebut, beliau kemudian mendapatkan banyak kemudahan-kemudahan dari Allah. Di antaranya, beliau acapkali dikunjungi tamu yang selain untuk silaturrahmi juga memberikan uang. Meski demikian, uang dari tamu-tamu itu tidak beliau miliki sendiri. Beliau menaruh uang tersebut dalam wadah bekas songkok dan meletakkannya di pojok kamar dalam biliknya. Kemudian kepada sahabat-sahabatnya, beliau berkata, “jika di antara sahabat-sahabat ada yang membutuhkan uang, bisa mengambilnya di dalam wadah songkok itu.”
Selain itu, beliau juga medapatkan kemudahan Allah berupa hadirnya sebuah amplop berisikan beberapa lembar rupiah dari balik sajadah di setiap habis menunaikan salat. Dalam amplop tersebut tertulis nama beliau sebagai orang yang dituju, sementara nama pengirimnya tidak tertulis.
Setelah dari Peterongan, Kiai Hasyim kemudian kembali ke Paiton. Di sini, selain membantu ayahandanya mengurus pesantren dan mendidik santri, beliau meneruskan jenjang pendidikannya di Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU) yang ketika itu, posisi rektor langsung dipegang oleh ayahandanya, KH. Zaini Mun’im. Di jenjang pendidikan ini, beliau berhasil meraih gelar BA (Bachelor of Art).

Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid (1976-1984)
Setelah wafatnya ayahanda tercinta, KH. Zaini Mun’im, beliau kemudian melanjutkan perjuangan dan pengabdian ayahandanya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sebagai pengasuh kedua, selain tetap melanjutkan gagasan-gagasan ayahandanya, beliau juga memberi warna terhadap konsep pembinaan dan penataan lembaga pendidikan di Pesantren Nurul Jadid.
Ketika menjadi Pimpinan Pesantren Nurul Jadid, selain dibantu oleh adik-adiknya, beliau juga dibantu oleh KH. Hasan Abd. Wafi yang pada tahun 1976 dipercaya menjadi Dewan Pengawas Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Pada masa Kiai Hasyim, di sektor pendidikan, santri terus diupayakan untuk tafaqquh fi addin. Dalam bidang keilmuan, santri terus ditempa untuk menguasai khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning, utamanya mereka yang duduk dijenjang MI, MTs dan MA. Sedangkan bagi mereka yang duduk di bangku SLTP dan SMU diarahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan khususnya MAFIKIB (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi). Tapi bukan berarti mereka tidak menguasai bidang keagamaan, karena bidang ini digalakkan di asrama santri. Jadi, pola pendidikan dan pembinaan pada masa Kiai Hasyim ini dilakukan secara integral. Sehingga terjadi sebuah proses yang saling mendukung antara program di sekolah dan pesantren.
Selanjutnya, karena adanya perubahan dari Sisdiknas, maka pada tahun 1977, Pendidikan Guru Agama Nurul Jadid (PGANJ) 6 tahun berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid (MTsNJ) untuk kelas I, II, dan III. Sedangkan kelas IV, V dan VI menjadi Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ).
Pada jenjang pendidikan tinggi juga mulai terlihat adanya peningkatan. Pada tahun 1979/1980 dirintis berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah. Hal lainnya adalah, membekali santri dengan life skill melalui pendelegasian mengikuti pelatihan, baik tingkat wilayah maupun tingkat nasional. Selanjutnya, mulai dirintis pula adanya ketrampilan santri, di antaranya adalah elektro, percetakan, jahit-menjahit, pertanian dan skill kebahasaan (arab-inggris).
Selain itu, para santri dan alumni dianjurkan untuk mengisi birokrasi. Jumlah santri pada masa KH Hasyim Zaini meningkat drastis. Pada tahun 1983, jumlah santrinya mencapai sekitar 2000 santri.

Kepribadian KH. Hasyim Zaini
KH. Hasyim Zaini merupakan sosok ulama yang sangat menyanjung akhlakul karimah. Kepada para santrinya, beliau selalu berpesan agar selalu menjaga etika. Sebab, Rasulullah mendapatkan gelar al-Amin karena akhlakul karimah, sehingga disenangi dan disegani kawan maupun lawan.
Kiai Hasyim juga merupakan sosok ulama yang lemah-lembut. Beliau tidak pernah marah kepada siapa pun. Atau meski pun marah, tidak kelihatan. Ini seperti yang dialami oleh salah satu santrinya, Hasyim Syamhudi. Ceritanya, ketika itu di bulan Ramadhan, kegiatan libur dan santri banyak yang pulang. Syamhudi yang kala itu menjadi pengurus pesantren, bersama beberapa sahabatnya pergi ke kota Kraksaan untuk menonton bioskop yang memutar cerita perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman. Seusai nonton bioskop, Syamhudi dipanggil Kiai Hasyim. Mendapat panggilan tersebut, Syamhudi terkejut. Karena dia yakin bahwa Kiai Hasyim tidak mengetahui kepergiannya menonton bioskop. Tapi akhirnya dia harus meghadap kepada Kiai Hasyim. Di kediamannya, Kiai Hasyim bertanya;
“Lebur (bagus) film yang ananda tonton?”
“Iya,” jawab Syamhudi sambil menunduk rapat-rapat.
“Bagaimana baiknya?”
“Cerita tentang perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman”
“Begini, apa pun yang benar tapi jika menimbulkan fitnah, itu juga termasuk dosa. Misalkan, ada seorang ustadz membeli kacang. Kacang tersebut halal. Cara membelinya juga dengan jalan yang halal, dari uang hasil jerih-payahnya sendiri. Tapi kemudian, ustadz tersebut memakan kacang itu sambil berjalan. Tidak duduk. Nah, begitu juga dengan menonton bioskop. Film itu tidak haram. Gedung bioskop juga tidak haram. Tapi yang perlu dipertimbangkan adalah opini masyarakat, bahwa film dan bioskop itu nuansanya jelek. Sementara anda adalah pimpinan, baik di sini, di Tanjung dan di Kraksaan,” ujar Kiai Hasyim.
Mendengar teguran tersebut, Syamhudi kemudian mohon maaf dan siap menerima hukuman dari Kiai Hasyim. Akhirnya, Kiai Hasyim menyuruh Syamhudi untuk berdiri di depan kediaman beliau sambil membaca istighfar sebanyak 1000 kali.
Sementara itu, contoh teladan tindakan yang beliau berikan di antaranya adalah, suatu waktu di pesantren ada kegiatan membakar bata mentah untuk dijadikan bahan material sebuah bangunan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 WIB. Tapi santri-santri belum juga tergerak untuk segera mengangkut bata mentah dan membakarnya. Tiba-tiba kemudian, Kiai Hasyim datang ke tempat terletaknya bata-bata mentah dan mengangkutnya sendiri. Melihat Kiai Hasyim mengangkut bata, spontanitas para santri yang semula santai, kemudian berlarian menuju bata mentah dan ramai-ramai mengangkut serta membakarnya.
Lebih jauh, Kiai Hasyim merupakan sosok pengasuh yang senantiasa akrab dengan santrinya. Misalkan, tiba-tiba si santri dipegang tangannya dan diajak ngobrol sambil jalan-jalan. Beliau juga kadang kala bercanda kepada santrinya.
Sebagai pendidik, Kiai Hasyim juga sangat sabar dan telaten. Misalkan ketika mengajar ilmu falaq di MANJ, selain memberikan teori, beliau juga mengajak para murid untuk praktek langsung tentang bagaimana cara mengetahui waktu. Ini juga beliau terapkan ketika mengajar kitab kuning (klasik) kepada santri-santrinya di Masjid.
Sementara itu, sebagai seorang ulama beliau sangat menghromati tamu dan tawadu’. Tiap tamu yang datang, selalu beliau temani, baik ketika membicarakan sesuatu hingga mengajak tamu tersebut makan bersama. Etika mulia beliau juga tampak dari perilaku beliau. Jika ada seorang tamu yang menunduk di hadapan beliau, maka beliau lebih menundukkan kepalanya dari sang tamu. Sementara jika tamu itu mengundurkan diri, beliau selalu mengantarkanya sampai si tamu hilang dari pandangan mata, baru kemudian beliau masuk ke kediamannya.
Lebih jauh, meski beliau dalam sebuah perjalanan tapi ketika di tengah jalan beliau bertemu dengan seseorang yang beliau kenal, beliau selalu berhenti, turun dari kendaraan dan menghampiri orang tersebut untuk berjabat tangan dan menanyakan kabarnya. Atas kepribadian Kiai Hasyim ini, tidak mengherankan jika masyarakat sekitar pesantren sangat mengagumi Kiai Hasyim sebagai ulama yang berbudi luhur.
Pengakuan tentang kemuliaan akhlak dan kelembutan kepribadian Kiai Hasyim juga datang dari Kiai Mahrus, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. “Kiai Hasyim itu alim dan akhlaknya mulia. Siapa pun tamunya, beliau selalu menghormatinya,” ujarnya.
Selain Kiai Mahrus, Al-Habib Al-Imam bin Abdullah bin Abdul Qodir bi Al-Faqih Al-Alawiy, juga mengatakan bahwa, “KH. Moh. Hasyim Zaini orang yang punya adat tata krama yang mulia.”
Pengakuan yang sama juga datang dari beberpa alim-ulama. Ini seperti diceritakan Kiai Zainullah Adhim, santri dari ayahandanya. “Berangkat haji, pulang-pergi Kiai Hasyim bersama KH. Musthofa Lekok Pasuruan. Beliau selalu menjadi imam salat. Karena menurut Kiai Mustofa, Kiai Hasyim lebih berhak menjadi imam salat berjama’ah daripada beliau sendiri. Sesampainya di Jeddah, Kiai Hasyim langsung dipapah dan digendong oleh As-Sayyid Amin Al-Kuthbiy sambil berkata, inilah As-Syaikh Muhammad Hasyim bin Zaini dari Jawa Indonesia. Mendengar sanjungan tersebut, Kiai Hasyim menjawab, Alhamdulillah, aku sudah kenal dengan semua macam-macamnya wali Allah,” kenang Kiai Zainullah.
Selain itu, KH. Hasan Saiful Rijal juga mengakui akhlak dan budi pekerti beliau yang hilm ketika ikut menjadi pengiring beliau di maqbarah bahwa, “Kiai Hasyim adalah ulama sangat mulia akhlaknya.”
Demikianlah kepribadian Kiai Hasyim, beliau merupakan sosok ulama yang berakhlakul karimah, lemah-lembut dan sangat pemaaf. Bagi beliau, prinsip hidup yang paling baik adalah rela dengan segala apa yang telah dibagikan/dianugerahkan oleh Allah. Lebih jauh, Kiai Hasyim juga berpesan: meski anak dan santri-santri itu memiliki kenakalan yang bagaimana pun, supaya dosa-dosa dan kesalahan mereka dima’afkan. Agar mereka tetap mempunyai kesempatan untuk menjadi muslim yang saleh dan muslimah yang salehah. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa, saudara sejati adalah yang senang atau menderita dirasakan bersama-sama.
Akan sifat beliau yang lemah lembut tersebut, Kiai Hasyim pernah memberikan alasan kepada beberapa santrinya bahwa, orang yang temperamental itu akan berhasil tapi sedikit kawannya. Tapi jika orang yang berakhlakul karimah dan lemah lembut (hilm), itu berhasil dan kawannya banyak.

Karomah KH. Hasyim Zaini
Di antara karomah Kiai Hasyim adalah seperti yang dituturkan oleh salah satu santrinya, Ratib. Ceritanya, suatu waktu Ratib diajak ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Setelah beberapa waktu di Sunan Ampel, Kiai Hasyim kemudian menyuruh Ratib untuk pulang dahuluan. Sebelum pulang, Kiai Hasyim memberikan uang untuk bekal di perjalanan. Setelah mohon diri, kemudian Ratib langsung pulang. Sesampainya di halaman Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ratib tiba-tiba terkejut. Karena dia mendengar suara Kiai Hasyim tengah mengajar santri-santrinya di Musala Riyadus Solihin. Karena penasaran, dia bergegas menuju Musala tersebut, ternyata benar, Kiai Hasyim tengah mengajar.
Esok harinya, karena masih penasaran, Ratib berkunjung ke kediaman beliau. Masih belum mengucapkan salam, Kiai Hasyim sudah membukakan pintu dan memanggilnya;
“Dik, sini-sini. Ada apa? Tanya yang kemarin ya?
“Iya,” jawab Ratib gugup.
“Saya diantarkan Mbah Saleh (ulama yang makamnya terletak di samping kiri Sunan Ampel),” jawab Kiai Hasyim.
Masih menurut Ratib, Kiai Hasyim juga terkenal dengan ulama yang weruh sak durungi pinaruh (ladunni). Kala itu, Ratib sempat berkunjung ke kediaman beliau sehari sebelum kewafatannya.
“Aneh... kok mendung terus?” kata Kiai Hasyim.
“Habib Husein Berani, selatan Genggong, sakit Kiai,” terka Ratib.
“Tapi saya kok didatangi Rasulullah.”
Sesaat kemudian, kala waktu menunjukkan ‘isya, Ratib dan santri-santri lainnya mendengar bahwa Kiai Hasyim telah meninggal dunia.
“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun,” seru para santri sambil mengucurkan air mata.

Karya Kiai Hasyim
Semasa menjadi pendidik sekaligus kepala sekolah di MAN Paiton, Kiai Hasyim Zaini pernah membuat konsep ekonomi menurut Al-Qur’an. Konsep ekonomi tersebut beliau ambil dari surah Al-Quraisy. Menurut Kiai Hasyim, orang Quraisy itu memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi. Sehingga menurut beliau, perekonomian itu harus dipegang oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan. Konsep ini kemudian beliau sebarkan kepada kepala-kepala sekolah se-Jawa Timur.
Selain soal konsep ekonomi tersebut, Kiai Hasyim juga memiliki karya tulis tentang ilmu mantiq ketika beliau menjadi salah satu pendidik (dosen) di ADIPNU. Karya tulis ini beliau tulis untuk dijadikan diktaat bagi mahasiswa-mahasiswanya. Allahu a’lam.

Biografi Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid

Pada Tahun 1906, di Desa Galis Pamekasan Madura, Lora Zaini Mun'im dilahirkan. Beliau merupakan putera pertama dari pasangan KH. Abdul Mun'im dan Ny. Hj. Hamidah. Lora Zaini memiliki adik bernama KH. Zawawi Mun’im.
Nama kecil Lora Zaini adalah Abdul Mughni. Sejak kelahirannya, masyarakat Galis berharap banyak pada dirinya. Sebab dalam tubuhnya telah tergabung antara darah bangsawan dengan darah ulama yang mempunyai komitmen dengan nilai nilai ajaran Islam, baik dari ayahanda maupun dari ibunda. Lebih-lebih, jika diruntut, silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Bindere Sa'ud (Bendoro Saud).
Dari jalur ayahandanya, Lora Mughni adalah putera KH. Abdul Mun'im. Sedang Kiai Abdul Mun’im adalah putera Kiai Mudarik. Adapun Kiai Mudarik sendiri adalah putera ke 4 Kiai Ismail, generasi kedua penerus Pondok Pesantren Kembang Kuning Pamekasan. Kiai Ismail adalah keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pondok Pesantren Kembang Kuning, yang pada tahun 619 M diangkat sebagai anak angkat Kiai Mahalli. Kakek Kiai Ismail adalah Kiai Nuruddin Gunung Tinggi Pakong, yang tidak lain adalah keturunan (dari jalur Kiai Batu Ampar Wetan) Bendoro Saud alias Temenggung Tirtonegoro, adipati Sumenep yang juga keturunan Pangeran Ketandur atau cucu dari Sunan Kudus.
Sedang dari jalur ibunda, Lora Mughni adalah keturunan para Raja Pamekasan melalui jalur KH. Bujuk Azhar (Ratoh Sidabulangan), penguasa Kraton Pamekasan Madura. Ibunda Lora Mughni berasal dari Desa Palesanggar, Kecamatan Pegantenan Pamekasan Madura. Kehidupan keluarganya terkenal sebagai keluarga santri.
Pada tahun 1937, Lora Abdul Mughni (yang akhirnya lebih populer dengan nama KH. Zaini Mun'im) kemudian menikah dengan keponakan Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, Nyai Nafi’ah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai Allah dengan enam putera dan 1 puteri. Tiga putera beliau lahir di Madura, yaitu: 1) KH. Moh. Hasyim, BA. 2) Drs. KH. A. Wahid Zaini, SH. 3) Nyai Hj. Aisyah (kemudian dipersunting oleh KH. Hasan Abdul Wafi). Sedangkan keempat putera lainnya lahir di Tanjung Karanganyar Paiton Probolinggo, yaitu: 4) KH. Fadlurrahman, BA. 5) KH. Muh. Zuhri Zaini, BA 6) KH. Abdul Haq Zaini, Lc, dan 7) Drs. KH. Nur Chotim Zaini.

Latar Belakang Pendidikan
Sejak usia dini, Zaini muda telah mendapatkan pendidikan agama dari kedua orang tuanya, Nyai Hamidah dan KH. Abdul Mun’im. Menginjak usia 11 tahun, pada masa penjajahan Belanda, Zaini muda masuk sekolah Wolk School (Sekolah Rakyat) selama empat tahun (1917-1921). Selanjutnya, beliau memperdalam Al-Qur’an beserta tajwidnya kepada KH. M. Kholil dan KH. Muntaha, (menantu Kiai Kholil) di Pondok Pesantren Pademangan Bangkalan Madura. Setelah itu, pada tahun 1922 beliau melanjutkan proses belajarnya ke Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan yang diasuh oleh KH. R. Abdul Hamid dan puteranya KH. Abdul Madjid.
Pada tahun 1925, beliau mulai merantau ke tanah Jawa dan mondok di Pesantren Sidogiri Pasuruan yang diasuh oleh KH. Nawawi. Di sini beliau hanya belajar satu tahun, karena ketika itu ayahandanya tercinta meninggal dunia. Sehingga, sebagai putera sulung, beliau harus pulang ke Madura, mengantikan posisi ayahandanya mengurus pertanian dan perdagangan, terutama pengoperasian pabrik sepatu dan pabrik koper yang telah diwariskan kepadanya.
Di usia 22 tahun, Zaini muda dapat mengendalikan dan mengembangkan usaha pertanian dan perdagangan ayahandanya. Adapun hasil usahanya, beliau gunakan untuk menimba ilmu ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Organisasi Nahdlatul Ulama). Di pesantren ini, beliau mempertajam ilmu agama dan ilmu bahasa Arab pada tingkatan yang lebih atas lagi, baik kepada Kiai Hasyim, KH. Maksum bin Kuaron Seblak (menantu Kiai Hasyim) maupun kepada KH. Wahid Hasyim (Putera Kiai Hasyim).
***
Pada pertengahan tahun 1928 bersama dengan nenek, ibu dan adik kandungnya, Zaini muda berangkat ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan menetap di Sifirlain untuk menuntut ilmu. Beliau belajar di Makkah selama lima tahun. Adapun para ulama yang menjadi guru beliau antara lain: KH. M. Baqir (berasal dari Yogyakarta), Syekh Umar Hamdani AI Maghribi, Syekh Alwi Al Maliki (Mufti Maliki di Makkah), Syekh Sa’id Al-Yamani (mufti Syafi’i di Makkah), Syekh Umar Bayunid (mufti Syafi’i di Makkah), Syekh Yahya Sangkurah (berasal dari Malaysia), dan Syekh Syarif Muhammad bin Ghulam As¬-Singkiti.
Sebelum pulang ke tanah air, beliau sempat mukim di Madinah selama enam bulan. Di sini beliau mengikuti berbagai pengajian di Masdjid Nabawi dari beberapa ulama terkemuka saat itu, di antaranya dari Syekh lbrahim Al-Barry.
Pada tahun 1934, Zaini muda pulang ke tanah air dan langsung menetap di Madura. Sejak tahun itu beliau akrab dipanggil KH. Zaini Mun’im, Pemimpin dan Pengasuh Pondok Pesantren Panggung Galis Pamekasan.

Kepribadian
Kiai Zaini merupakan sosok ulama yang sangat mulia. Pertama, meski berasal dari keturu¬nan Kiai dan bangsawan serta memiliki status ekonomi yang mapan, tapi beliau merupakan sosok ulama yang sangat populis. Dalam kesehariannya, beliau tidak pernah mengikutsertakan latar belakang keluarga¬ dan gelar ke¬bangsawanannya, yaitu raden. Padahal gelar ini umumnya selalu dibawa dan dipakai oleh orang orang Madura, termasuk para ulamanya yang memang berhak menyandangnya.
Kedua, jujur dan ikhlas. Kejujuran, ketekunan dan keikhlasan Kiai Zaini dalam mencari ilmu, sudah tertanam sejak masa mudanya. Paling tidak, sejak beliau mondok di Tebuireng, di mana Kiai Hasyim Asy'ari sendiri memberi julukan Zaini al¬khalisi, Zaini yang ikhlas.
Ketiga, hidup sederhana. Bagi Kiai Zaini, hidup sederhana adalah prinsip hidup yang mudah diterima masyarakat. Ini kemudian beliau terapkan kepada putera-puterinya. Dari segi berpakaian, beliau selalu membelikannya dari bahan bahan yang wajar, sebagaimana layaknya orang kebanyakan. Tujuannya, agar putera putrinya bisa hidup sederhana, sehingga tidak terjadi garis pemisah dengan masya¬rakat sekitamya.
Keempat, memuliakan dan menghormati orang lain. Ini terlihat ketika beliau ditahan Belanda di ruang penjara Probolinggo. Kala itu, ada shalat jama’ah dengan imam yang biasanya dipimpin oleh Bapak Mulyadi. Mengetahui Kiai Zaini datang, segera Pak Mulyadi mempersilahkan beliau untuk memipin shalat. Tapi Kiai Zaini menolaknya. Karena beliau datang belakangan dari Pak Mulyadi. Akhirnya, Pak Mulyadi yang bertindak sebagai imam, sementara beliau makmumnya.
Kelima, dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, beliau juga sangat tekenal dengan sikap yang longgar dan hati hati. Misalkan, meski dalam masalah hukum beliau sangat ketat, baik untuk dirinya sendiri, keluarga dan santrinya, tapi jika dengan orang lain, beliau memper¬lakukannya dengan sangat longgar. Sikap ini terlihat ketika seorang pengusaha menanyakan pada beliau tentang hukum berhubungan dengan bank. Ditanya demikian, beliau balik bertanya, “sampeyan menanyakan hukum itu pada diri saya pribadi atau apa yang sudah diputuskan NU dalam mukta¬marnya di Menes Jabar? Jika pendapat saya pribadi, hukumnya haram. Tapi jika keputusan NU itu ada tiga; haram, mubah dan ikhtilaf.”
Sementara sikap kehati hatian dalam menghadapi persoalan yang timbul di masyarakat, tampak ketika beliau memberikan pesan terhadap santrinya yang hendak pulang ke kampung halamannya, “dalam masa setahun atau dua tahun, janganlah ikut campur dalam persoalan di masyarakat. Tapi lihat dulu, bagaimana situasi dan kondisi masyarakat sesungguhnya. Setelah kamu betul betul tahu dan paham tentang seluk beluk masyarakat, silahkan kamu mulai terjun dan mengabdi pada masyarakat.”
Keenam, beliau terkenal gigih dan berani dalam memperjuangkan keadilan bagi masyarakat. Misalnya, suatu saat ada ketidakadilan dalam pembagian air (irigasi) untuk masyarakat petani, lalu beliau datang sendiri dan berkata kepada si penjaga irigasi, “apa kamu takut untuk melawan orang yang memaksamu untuk berbuat tidak adil? Jika takut, mari bersama saya menghadapnya.”
Ketujuh, bercita cita tinggi, lebih-lebih pada hal yang bersifat keilmuan. Cita-cita dan orientasi keilmuan Kiai Zaini ini, tercermin dari keinginan dan cita cita beliau untuk menjadikan seluruh masyarakat Indonesia menjadi masyarakat pesantren, yaitu masyarakat yang dijiwai oleh tiga prinsip hidup: 1) Masyarakat yang mementingkan hal hal yang menjadi fardlu ‘ain, 2) Masyarakat yang menjauhi segala dosa dosa besar, dan 3) Masyarakat yang senantiasa membina hubungan baik antara manusia dengan Allah dan antar sesama manusia.
Kedelapan, bersikap demokratis. Kepada santri-santrinya, beliau tidak pernah membeda-bedakan antara satu santri dengan santri lainnya karena perbedaan status keluarga di rumahnya. Menurut beliau, santri itu harus berdiri sama tegak dan duduk sama rendah.
Kesembilan, berfikir strategis. Selain ilmu agama, Kiai Zaini juga menaruh perhatian kepada ilmu umum. Ini terlihat dari ungkapan beliau, “saya mendirikan Pesantren Nurul Jadid ini tidak ingin hanya mencetak Kiai saja, tapi juga insan yang beriman dan punya komitmen tinggi terhadap perjuangan, di mana pun mereka berada dan sebagai apa pun. Saya menginginkan agar para santri ini ada di mana-¬mana, se¬hingga jika kita ke mana saja, ke departemen departemen yang ada di Indonesia, ini ada santrinya.”
Berangkat dari ungkapan di atas, beliau tidak pernah melarang para santrinya menjadi pegawai negeri. Padahal waktu itu umat Islam seakan akan anti pegawai negeri. Mengenai sikap beliau ini, Kiai Zaini bekata, “jika posisi itu tidak kita pegang, pasti orang luar yang akan memegangnya. Apa kita semua rela jika Islam dikendalikan oleh orang orang non muslim? Yang tahu membangun Islam adalah orang Islam sendiri, maka orang Islam harus masuk di dalamnya.”
Kesepuluh, sebagai pendidik, beliau sangat perhatian terhadap perkembangan santri-santrinya, baik yang masih berstatus santri aktif dan menetap di pesantren, maupun santri yang sedah menjadi alumni dan hidup di tengah masyarakat. Ini sepeti yang diceritakan oleh KH. Badri Masduki, Pengasuh Pondok Pesantren Baddridduja, Kraksaan Probolinggo. “Sam¬pai sekarang, saya belum menemukan orang yang lebih telaten dari beliau dalam hal ngopeni santri. Bukan saya yang sering sowan kepada beliau, tapi justru beliau yang sering mengunjungi saya ke Kraksaan. Beliau selalu memotivasi saya agar terjun ke masyarakat. Padahal kala itu hati saya sangat berat untuk keluar. Tapi beliau selalu mengunjungi saya dan mengajak terjun langsung ke masyarakat, turba ke ranting ranting NU, diajak mengikuti konferensi NU dsb. Akhirnya, saya kemudian bisa aktif terjun ke masyarakat dan aktif di Rais Syuriaah NU Cabang Kraksaan dan Syuriah NU Wilayah Jawa Timur. Ini semua berkat ketelatenan beliau dalam mengkader dan mendidik saya. Bagi saya beliau itu bukan hanya sekedar guru, tapi juga orang tua saya sendiri.”

Kiai Zaini Sebagai Pejuang
Semangat melawan penindasan, ketidakadilan dan kesewenang wenangan telah tertanam di dalam diri KH. Zaini Mun’im. Ini terlihat sejak masa mudanya, terutama setelah beliau pulang dari Makkah (1934). Ketika itu, beliau mulai memperhatikan berbagai persoalan yang melilit kehidupan masyarakat sekitarnya dan terlibat langsung dalam kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak, khususnya dalam bidang sosial-ekonomi, beliau aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Pamekasan. Meski sebagai Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Panggung Galis, beliau tidak segan segan ikut terjun langsung menangani berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama tentang kebijakan pemerintah Kolonial Belanda di bidang pertanian (tembakau).
Selain itu, beliau juga aktif terlibat sebagai pejuang dalam mempertahankan NKRI, baik pada masa pendudukan Jepang dan Belanda. Pada masa Jepang beliau dipercaya sebagai pimpinan Barisan Pembela Tanah Air (PETA). Selanjutnya, beliau juga dipercaya sebagai pimpinan Sabilillah ketika melakukan Serangan Umum 16 Agustus 1947 terhadap bala tentara Belanda yang menguasai Kota Pamekasan

Berjuang di NU
Sekira tahun 1951, Kiai Zaini kedatangan tamu istimewa, yaitu KH. Hasan Sepuh Genggong, KH. Abdul Latif dan KH. Fathullah (Pengurus NU Cabang Kraksaan) untuk mengajak agar Kiai Zaini bersedia berjuang membina warga melalui organisasi NU Cabang Kraksaan. Ajakan ketiga Kiai ini kemudian beliau sambut dengan tangan terbuka.
Pada tahun 1953, Rais Syuri’ah NU Cabang Kraksaan, KH. Abdul Latif meninggal dunia. Sebagai gantinya, Kiai Zaini dipilih dan diangkat menjadi Rois Syuriyah NU Cabang Kraksaan hingga tahun 1975.
Sementara pada muktamar NU ke 21 di Medan (Sumatera Utara) Desember 1956, Kiai Zaini terpilih sebagai salah satu anggota dewan Partai NU dari 79 orang yang terpilih. Sejak menjadi anggota dewan Partai NU ini, keterlibatan beliau di bidang politik Nasional mulai menonjol
Selanjutnya, pada tahun 1960, Kiai Zaini terpilih sebagai Wakil Rois Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur.
Sebagai tokoh NU, Kiai Zaini enggan jika ummat dikotak-kotakkan atau dibeda bedakan. Bahkan beliau marah jika perselisihan yang ada antara NU dan Muhammadiyah itu terus dipertajam. Beliau lebih suka mencari persamaan persamaannya daripada mempertajam perbedaaannya, meski beliau mengakui jika di antara keduanya tetap ada perbedaan.
Selama berjuang di NU, Kiai Zaini tidak hanya memikirkan masalah agama, tapi juga memikirkan masalah kemasyarakatan dan kenegaraan. Menurut Kiai Zaini, bagaimana ummat Islam merasa dirinya sebagai pejuang Islam. Pendapat ini tercermin dari fatwa yang pernah beliau katakan, “orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah ber¬buat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah ekono¬minya saja dan pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan rakyat banyak, bagaimana agar hukum hukum Allah yang ada dalam Al-Qur’an, baik yang tersirat maupun yang tersurat, dapat berlaku di bumi Indonesia.”

Ide Dasar Kembali ke Khittah NU 1926
Ketika NU mengadakan Muktamarnya yang ke 25 pada tanggal 20 s/d 25 Desember 1971 di Surabaya, dasar dasar pemikiran untuk kembali ke Khittah sudah dimunculkan oleh Kiai Zaini. Saat itu beliau meminta agar program prog¬ram NU dapat dipisahkan antara kegiatan politik dan kegiatan kemasyarakatan, menjelang menghadapi sistem perpolitikan di Indonesia mendatang.
“Jika NU tidak mau memisahkan secara jelas antara kegiatan politik dan kemasyarakatannya, maka Islamnya yang akan menjadi korban,” tegas Kiai Zaini.
Tapi, karena saat itu sayap politik tokoh tokoh NU masih sangat kuat dan KH. Idham Chalid masih memiliki pengaruh besar, maka keinginan (politic feeling) Kiai Zaini itu belum bisa menjadi keputusan Muktamar.
Namun dua tahun kemudian, pernyataan Kiai Zaini di atas terbukti. Pada tahun 1973, terjadi perubahan sistem per¬politikan di Indonesia; peleburan dari banyak partai menjadi dua partai politik: Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Adapun Golkar, murni tidak melakukan fusi. Sementara Partai NU memfusikan aspirasi politiknya ke dalam PPP.

Sebagai Pendiri dan Pengasuh Pesantren Nurul Jadid
Ketika datang di Desa Tanjung (sekarang Karanganyar), mulanya Kiai Zaini tidak bermaksud mendirikan lembaga pendidikan pesantren, tapi hanya ingin mengisolasi diri dari keserakahan dan kekejaman penjajah. Tentang dakwah, beliau akan tempuh melalui Departemen Agama. Selanjutnya, be¬liau hendak melanjutkan perjalanannya ke pedalaman Yogyakarta, menemui teman teman seperjuangannya.
Tapi sebelum cita cita luhur itu terealisasi, beliau telah mendapatkan amanah berupa dua orang santri: Syaifuddin (Sidodadi Paiton) dan Syafiuddin (Gondosuli Kotaanyar Paiton). Saat itu, mereka berdua ditem¬patkan di surau kecil yang kala itu selain berfungsi sebagai tempat shalat, juga untuk ruang tamu, mengajar dan tempat tidur santri. Karena ada titipan dua santri itu, lalu beliau mengurungkan niat semula dan menetap di Karanganyar. Pilihan ini kemudian bertambah bulat, seiring meningkatnya jumlah santri yang berguru kepada beliau. Di antaranya adalah Muyan, Abdul Mukti, Arifin Makyar, Syam¬suddin, Baidlawi dan Jufri. Akhirnya, bersama sama para santri, Kiai Zaini mulai merintis beridirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Mendirikan Lembaga Pendidikan
Pada masa Kiai Zaini, lembaga pendidikan yang beliau dirikan antara lain: Pertama, Madrasah Ibtidaiyah Agama (MIA,1950). Kedua, taman kanak-kanak Nurul Mun’im dan lembaga pendidikan al-khairiyah.
Ketiga, Flour Kelas. Lembaga ini pada tahun 1961, berubah nama menjadi Mu’allimin. Selanjutnya pada tahun 1969, berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dan selang tiga tahun kemudian, status MTs ini dinegerikan.
Keempat, pada tahun 1974, berdiri Sekolah Dasar Islam (SDI). Dua tahun kemudian, SDI berubah nama menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Mun’im (MINM).
Kelima, pada tahun 1975, didirikan lembaga Pendidikan Guru Agama Nurul Jadid (PGANJ) berjenjang 6 tahun. Tapi dalam proses perjalanannya, PGANJ ini hanya bertahan tiga tahun.
Keenam, Pada tanggal 1 September 1968, didirikan pendidikan Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU).

Sebagai Muballigh
Sebagai muballigh, Kiai Zaini menerapkan dua model dakwah. 1) dakwah bi lisani hal dan 2) dakwah bi lisanil maqal. Dalam aplikasinya, biasanya beliau lebih mendahulukan dakwah bi lisani hal dari pada dakwah bi lisanil maqal.

Dakwah bil Hal
Ke¬tika pertama kali datang di Dusun Tanjung Desa Karanganyar, Kiai Zaini langsung mempelajari situasi dan kondisi ekonominya. Ketika itu Desa Karanganyar terkenal sebagai pusatnya bromocorah, pelacuran, perjudian dan sebagainya. Sementara di sisi lain, beliau melihat bahwa tanah di sini dapat dikatego¬rikan sebagai tanah yang produktif, hanya saja masyarakatnya belum bisa memanfatakannya dengan baik.
Mulanya, Kiai Zaini merubah tanah milik beliau dari tegalan menjadi ladang dan sawah. Kemudian tanah itu beliau tanami jagung. Hasilnya? Ternyata cukup memuaskan. Melihat hasil tanaman milik beliau, kepala desa dan masyarakat Karanganyar terkagum-kagum. Hingga kemudian mereka tidak menolak ketika Kiai Zaini mengajak untuk bersama-sama membu¬at dan membangun jaringan irigasi untuk tanah persawahan, serta membuat sumur jika musim kemarau.
Selanjutnya, beliau menge¬nalkan pada masyarakat berbagai jenis tanaman, antara lain; tana¬man jagung, palawija, tebu rakyat dan akhirnya tanaman tembakau yang bibitnya diambilkan dari Madura.
Ketika pertama kali memperkenalkan tanaman tembakau, beliau mendapat respon negatif dari masyarakat. Menurut mereka, tanaman tembakau tidak bisa dimakan. Tapi dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, beliau tetap menanam tembakau dan selanjutnya memberi pemahaman terhadap masyarakat bahwa, tanaman tembakau memang tidak untuk dimakan. Tapi untuk bahan pokok membuat rokok.
Setelah memperoleh pemahaman dan bukti dari Kiai Zaini, akhirnya masyarakat Karanganyar kemudian berbondong-bondong menanam tembakau. Adapun tanaman tembakau, selanjutnya menjadi tanaman andalan dan sandaran hidup masyarakat sekitar Karanganyar. Buktinya, ketika akan mengadakan suatu hajatan, mereka selalu bilang, “tunggulah nanti pada musim tembakau.”

Dakwah bil Maqal
Dalam menggunakan dakwah bi lisani maqol, Kiai Zaini tidak pernah mengenal waktu, tempat dan sama sekali tidak membeda-bedakan derajat masyarakat yang mengundangnya. Acara sekecil apa pun, beliau selalu mengusahkannya untuk datang.
Dalam berdakwah, Kiai Zaini selalu mengajak masyarakat untuk cinta pada agama dan tanah air Indonesia. Selain itu, beliau juga memotivasi mereka agar selalu berupaya meningkatkan kesejahteraan dan memerangi kemiskinan, kebodohan, kemasalan dan sebagainya.
Pada tahun 1968, di Indonesia mulai muncul kristenisasi. Merespon gejala ini, beliau berpendapat agar kegiatan dak¬wah di kalangan umat Islam secara keseluruan ditingkatkan. Para da’i perlu membekali dirinya dengan kemampuan teoritis dan ilmiah. Sehingga mereka mempunyai wawasan yang luas dan bisa melakukan misi dakwah terhadap masyarakat kelas menengah ke atas, terutama kepada mereka yang berada di berbagai instansi pemerintahan dan swasta.
Demi merealisasikan gagasan tersebut, Kiai Zaini mengadakan up grading dakwah dan pendidikan agama secara periodik. Gagasan beliau ini kemudian disambut positif oleh para tokoh masyarakat. Hingga kemudian, muncullah pemikiran-pemikiran baru agar kegiatan up grading itu lebih ditingkatkan lagi menjadi semacam lembaga yang bersifat per¬manen dengan kurikulum yang sistematis dan prospektif.
Berangkat dari aspirasi masyarakat itu, beliau kemudian melakukan konsultasi kepada beberapa ahli, di antaranya dengan Prof. Ismail Yakub, Rektor pertama IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kepada Kiai Zaini, Prof. Ismail menyarankan agar mendirikan Akademi Dakwah. Tawaran ini beliau respon positif. Selanjutnya beliau menawarkannya ke dalam musyawarah kerja Pengurus Wilyah NU Jawa Timur di Lumajang. Hingga kemudian, pada tanggal 20 Juli 1968, dibentuklah panitia usaha pendidikan Akademi Dakwah dan Ilmu Pendidikan Nahdlatul Ulama (AD1PNU). Selanjutnya, pada tanggal 1 September 1968, di Pesantren Nurul Jadid didirikan ADIBNU (sekarang IAINJ)
Demikianlah kegigihan dan keseriusan Kiai Zaini dalam menyiarkan dan menyebarluaskan ajaran ajaran agama Islam. Bahkan, demi dakwah Isla¬miyah beliau tidak mengenal usia. Buktinya, tiga hari sebelum meninggal dunia (Rabu, 22 juli 1976), beliau masih sempat dan tetap bersemangat melakukan dakwah di Desa Bula Jaran Kecamatan Gending Probolinggo. Di tengah beliau menyampaikan pidatonya, tiba tiba badan beliau mera¬sa tidak enak. Sehingga beliau harus meninggalkan tempat pengajian sebelum acara selesai. Sesampainya di rumah, kesehatan beliau semakin menurun dan dinyatakan terserang penyakit darah tinggi, sehingga tidak sadarkan diri dan dilarikan ke Rumah Sakit Islam Surabaya. Pada tanggal 26 Juli 1976 pukul 04.00 Wib akhirnya beliau wafat, menghadap Ilahi Rabbi. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun.

Social Icons